Beralihnya Harta Warisan dari Pewaris ke Ahli Waris

Share :

Pertanyaan:

D-Lead yth.,

Apa yang dimaksud dengan Pewarisan? Kapankah harta warisan dapat beralih dari Pewaris ke Ahli Waris?

(Pertanyaan dari Ahmad Bayhaqi)

Jawaban:

Pewarisan terjadi karena meninggalnya seseorang, yang disebut dengan pewaris. Di dalam Pasal 830 Kitab Undang-Undang  Hukum Perdata ditentukan bahwa: Pewarisan hanya berlangsung karena kematian. Pada asasnya dengan meninggalnya seseorang maka seketika itu juga beralihlah semua hak dan kewajiban pewaris kepada para ahli warisnya. Pasal 833 KUHPer menentukan bahwa: sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak dan segala piutang orang yang meninggal. Artinya ahli waris demi hukum atau secara otomatis, tanpa melakukan suatu perbuatan hukum tertentu memperoleh kekayaan pewaris tanpa harus menuntut penyerahan barang-barang tersebut (le mort saisit la vif). Ahli waris mempunyai hak saisine. Hak saisine ialah hak ahli waris untuk tanpa berbuat sesuatu apa demi hukum atau secara otomatis menggantikan (memperoleh) kedudukan pewaris dalam lapangan hukum kekayaan.

Pembentuk Undang-undang di dalam Pasal 833 KUHPer menentukan bahwa: dengan sendirinya karena hukum. Artinya ahli waris secara otomatis tanpa harus melakukan perbuatan apapun, juga tidak  perlu  dengan  jalan menuntut penyerahan barang-barang tersebut, bahkan dalam hal seandainya ahli waris belum mengetahui tentang adanya warisan yang terbuka, bahwa ia mendapatkan warisan dengan meninggalnya anggota keluarga yang menjadi pewarisnya. Perpindahan tersebut juga berlangsung segera, setelah pewaris meninggal dunia. Perumusan Pasal 833 KUHPer menyebutkan: “…dengan sendirinya memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak dan segala piutang…”

Perumusan tersebut kurang tepat, karena seolah-olah yang berpindah hanyalah aktivanya saja dari warisan, padahal yang berpindah bukan hanya akitva melainkan pasiva juga berpindah. Dengan demikian saisine adalah hak ahli waris untuk tanpa berbuat apa-apa, otomatis (demi hukum) menggantikan kedudukan pewaris dalam lapangan hukum kekayaan. Hak dan kewajiban pewaris secara otomatis menjadi hak dan kewajiban ahli waris, tanpa berbuat apapun (demi hukum). Menurut Pasal 955 KUHPer,  tidak hanya ahli waris menurut undang-undang yang berhak memperoleh hak milik atas harta peninggalan pewaris, tetapi sekalian mereka yang dengan surat wasiat diangkat menjadi ahli waris berhak pula memperoleh  hak  milik atas  harta  peninggalan pewaris. Orang yang diangkat menjadi ahli waris berhak  juga atas  saisine. Semua ahli waris baik ahli waris menurut undang-undang maupun ahli waris berdasarkan wasiat menjadi pemilik harta peninggalan seseorang, termasuk hak dan kewajibannya. Lain halnya dengan mereka yang menerima hibah wasiat, mereka harus melakukan  tagihannya agar harta yang dihibahkan itu diserahkan kepada para ahli waris atau penerima wasiat, melakukan tagihan akan penyerahan kebendaan yang dihibahkan kepada para ahli waris atau penerima wasiat, yang berkewajiban menyerahkannya. (Pasal 954 ayat 1 KUHPer).

Demikian jawaban dari kami, semoga dapat membantu.

Sumber: Darmabrata, Wahyono. Hukum Perdata: Asas-asas Hukum Waris. Jakarta: Rizkita, 2012.

 

Kategori
Scroll to Top
Open chat
1
Selamat datang di D-LEAD ada yang bisa kami bantu ?